Opini Publik
Isu agama seakan tak ada habisnya, saat sebuah isu
yang terdahulu mulai ‘terlupakan’ oleh waktu dan saat orang-orang mulai merasa
damai saat bersama-sama, muncul lagi isu baru yang membuat rasa heran dan
bingung kenapa terjadi lagi dan lagi. Pada saat itu di Papua sana, di sebuah daerah Timur
negara Indonesia konflik antar agama terjadi. Muslim di Tolikara yang hendak
melakukan shalat Id Fitri diserang oleh puluhan orang. Aksi penyerangan
tersebut bisa dikatakan nekat dikarenakan pelaksanaan shalad Id disana dijaga
oleh pihak kepolisian. Penyerangan tersebut mengakibatkan kerusakan yang cukup
parah, sebuah masjid, beberapa rumah dan kios warga disana dibakar oleh massa
yang menyerang. Beberapa muslim disana juga mendapatkan luka bakar karena kejadian
tersebut. Selain dari pihak muslim, korban juga ada yang dari pihak penyerang,
satu dari mereka tewas dan beberapa terluka. Hal ini sungguh disesalkan
dikarenakan jika pihak yang menyerang juga sampai terluka perlukah aksi
penyerangan tersebut menjadi kebenaran atas tindakan mereka.
Menjadi minoritas di tempat mayoritas masih menjadi
salah satu pemicu konflik antar agama. Disini kita bisa melihat bahwa yang
‘berkuasa’ dalam hal ini kaum mayoritas merasa mereka ‘berhak’ untuk membuat
aturan baru yang mengusik kaum minoritas di tempatnya. Padahal kalau kita buka
kembali ajaran tiap agama, tidak ditemukan bahwa ada agama yang mengharuskan
menindas kaum lainnya. Dan kita juga tak bisa langsung menyimpulkan bahwa
kekerasan yang ada disebabkan karena agama tertentu. Pelaku dari pemicu konflik
pasti dilakukan oleh oknum-oknum yang ‘mengaku’ agama tertentu tapi nyatanya
tak menjunjung agama yang ia sematkan. Ia tak peduli dengan rasa impati dan ia
takut dengan perkembangan suatu kaum yang agamanya berbeda dengannya.
Khusus dalam konteks budaya Indonesia yang sangat
plural tentu membutuhkan pendekatan yang sedikit berbeda dengan negara-negara
lain dalam hal bertoleransi. Masalah agama bukanlah sesuatu yang bisa dianggap
remeh. Kita semua tahu bahwa manusia dicitapkan bersuku-suku dan
berbangsa-bangsa agar saling mengenal di antara sesama. Perbedaan di antara
manusia bukan digunakan sebagai alasan untuk saling melukai tetapi harus
dipupuk untuk menjadi pemersatu. Perbedaan bukan pula alasan untuk melahirkan
dan menebarkan kebencian dan permusuhan. Ada alasan kenapa kita diciptakan
dengan perbedaan, sebab jika kita diciptakan dengan suku dan bangsa yang sama
maka dunia tidak akan menarik dan tak bisa berkembang menjadi lebih baik
seperti sekarang.
Toleransi berasal dari kata “Tolerare” yang berasal
dari bahasa latin yang artinya adalah dengan sabar membiarkan sesuatu. Jadi
secara harfiah pengertian dari toleransi beragama ialah dengan sabar membiarkan
orang menjalankan agama-agama lain. Contoh toleransi beragama yang paling mudah
adalah dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat menghormati keberadaan
agama atau kepercayaan lainnya yang berbeda. Toleransi
adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling
bekerjasama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara
etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Jadi, ada batas-batas bersama
yang boleh dan tidak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi di mana
masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling
menghormati keunikan agamanya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan
maupun hak-haknya.
Sebagai makhluk sosial manusia mutlak membutuhkan
orang lain dan lingkungan di sekitarnya untuk melestarikan dan menjaga
eksistensinya di dunia. Sebab tidak ada satu pun manusia yang mampu bertahan
hidup dengan tanpa memperoleh bantuan dari lingkungan dan sesamanya. Dalam
konteks ini, manusia harus selalu menjaga hubungan antar sesama dengan
sebaik-baiknya, tak terkecuali terhadap orang lain yang tidak seagama, atau
lazim disebut dengan istilah toleransi beragama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar